| (Foto Peresmian Pasar Hewan Jonggol dan Nama Jalan H. M. Syurdi Rusuh. Sumber Foto: Diskanak Bogor) |
Dua peristiwa tersebut mungkin terlihat sebagai bagian dari pembangunan yang berlangsung secara biasa. Namun jika menengok ke belakang, keduanya memiliki keterkaitan dengan gagasan-gagasan yang pernah diangkat dan didiskusikan oleh Jonggol Cendekia dan Beben Suhendar ketika menjadi Camat Jonggol pada satu dekade yang lalu.
| (Foto Tahun 2016 Petisi Dukunagn Masyarakat untuk Penataan Alun-alun dan Penamaan Jalan H.M Syurdi Rusuh) |
Salah satu nama yang saat itu diangkat adalah H.M. Syurdi Rusuh.
H.M. Syurdi Rusuh merupakan tokoh penting dalam sejarah Jonggol. Semasa menjabat sebagai Kepala Desa Jonggol, beliau berhasil membawa Desa Jonggol meraih predikat desa terbaik tingkat nasional. Prestasi tersebut bahkan mengantarkan Presiden Soeharto berkunjung langsung ke Jonggol. Pada periode itu pula, Kecamatan Jonggol sempat menjadi perhatian nasional melalui gagasan pemindahan Ibu Kota Negara Republik Indonesia ke wilayah Jonggol.
| (Foto Usulan Penamaan Jalan H.M Syurdi Rusuh dalam Media Cetak Harian Pakuan Raya) |
Pada tahun yang sama, 2016, Jonggol Cendekia juga menerbitkan tulisan berjudul "Jonggol Miliki Pasar Hewan Terbesar di Bogor Timur". Tulisan tersebut mengangkat potensi besar perdagangan ternak di Jonggol yang selama puluhan tahun menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat. Jonggol dinilai memiliki posisi strategis sebagai pusat aktivitas jual beli ternak yang melayani wilayah Bogor Timur dan daerah sekitarnya.
Saat itu, potensi tersebut sudah terlihat jelas. Namun sarana yang tersedia masih jauh dari ideal untuk mendukung aktivitas ekonomi yang terus berkembang.
Kini, sepuluh tahun berselang, Pasar Hewan Jonggol resmi berdiri dan mulai menjalankan fungsinya sebagai pusat perdagangan ternak yang lebih tertata dan representatif.
Tentu saja, peresmian pasar hewan maupun penamaan jalan bukanlah hasil dari satu gagasan atau satu pihak semata. Banyak unsur yang terlibat dalam proses panjang tersebut, mulai dari masyarakat, pemerintah desa, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, hingga para pemangku kepentingan lainnya yang terus memperjuangkan kemajuan Jonggol dari waktu ke waktu.
Namun setidaknya, kedua peristiwa tersebut memberikan satu pelajaran penting: gagasan yang baik tidak selalu terwujud dalam waktu singkat. Ada gagasan yang langsung dilaksanakan. Ada yang membutuhkan waktu beberapa tahun. Dan ada pula yang memerlukan satu dekade sebelum akhirnya menemukan momentum yang tepat.
Karena pembangunan sejatinya tidak hanya lahir dari anggaran, beton, dan proyek fisik. Pembangunan juga berawal dari pemikiran, diskusi, kritik, masukan, serta keberanian untuk membayangkan masa depan yang lebih baik bagi daerahnya.
Peresmian Pasar Hewan Jonggol dan penamaan Jalan H.M. Syurdi Rusuh menjadi pengingat bahwa ide-ide yang pernah dituliskan, didiskusikan, dan diperjuangkan tidak selalu hilang begitu saja. Sebagian mungkin tertunda, sebagian mungkin terlupakan untuk sementara, tetapi pada akhirnya dapat menemukan jalannya sendiri.
Sepuluh tahun mungkin bukan waktu yang singkat. Namun perjalanan Pasar Hewan Jonggol dan pengabadian nama H.M. Syurdi Rusuh menunjukkan bahwa gagasan yang lahir dari kepedulian terhadap daerah memiliki daya hidup yang panjang. Karena itu, Jonggol tidak boleh berhenti melahirkan ide dan pemikiran untuk masa depannya. Hari ini dua gagasan telah menemukan jalannya. Besok, mungkin gagasan-gagasan lain tentang pendidikan, kebudayaan, tata kota, ekonomi, hingga masa depan Bogor Timur akan menyusul menjadi kenyataan. Sebab setiap kemajuan selalu diawali oleh keberanian untuk membayangkannya terlebih dahulu.
Penulis : Harry Hardiyana (Pegiat Jonggol Cendekia)





